Jumat, 29 Agustus 2008
Ramadhan
Mohon maaf atas segala khilaf..
Mari kita sambut Ramadhan kali ini dengan hati yang bersih..
Semoga Ramadhan kali ini menjadi Ramadhan terbaik kita..
Amin..
Selasa, 26 Agustus 2008
ICND
Jumat, 08 Agustus 2008
Rabu, 06 Agustus 2008
Pengajar
Karena kekaguman saya sama Bapak pembicara ini, saya jadi ingat lagi sama cita-cita saya dan memiliki sedikit perubahan pandangan mengenai cita-cita saya. Saya gemar belajar dan sangat senang berbagi ilmu dan pengalaman dengan orang lain. Oleh karena itu, dari dulu saya bercita-cita untuk menjadi dosen. Namun, pengalaman saya yang hanya 2 jam hari ini, mengikuti seminar yang disampaikan oleh Bapak tadi, membuat saya sedikit membuka mata. Bahwa menjadi seorang dosen/guru bukanlah satu-satunya pekerjaan yang bisa mendukung kegemaran saya, belajar dan berbagi ilmu. Bahwa menjadi professional di sebuah perusahaan, tetap memungkinkan saya untuk bisa menjadi ”pengajar”. Memang, tidak semua profesi bisa membuat saya menjadi “pengajar”, namun menjadi dosen atau guru juga bukan merupakan satu-satunya profesi yang bisa membuat saya menjadi seorang “pengajar”.
Salam
Semangat :)
Selasa, 05 Agustus 2008
Aptitude Plus
Aptitude Plus adalah judul sebuah buku yang saya beli di Gramedia beberapa hari yang lalu. Merupakan salah satu buku psikologi-pengembangan diri. Saya memang menyukai jenis-jenis buku seperti ini terutama untuk menambah motivasi diri. Buku bersampul merah dengan tebal 130an halaman ini termasuk salah satu buku yang bisa membuat saya betah membaca. Selesai saya baca dalam waktu 2 malam. Rekor yang cukup bagus karena biasanya saya tidak pernah betah membaca buku, tidak bernah beranjak dari bab satu, terutama buku-buku yang membuat saya tidak tertarik sekalipun buku itu termasuk dalam jajaran best seller.
Buku ini berisi kisah nyata, tentang seorang anak bernama Tony, yang telah kehilangan kakinya sejak berusia 9 tahun. Terserempet kereta api membuat ia harus rela kedua kakinya diamputasi. Sebuah pukulan yang berat bagi keluarga Tony. Namun tidak demikian dengan Tony. Dia tetap bisa ngglidhig sekalipun dia tidak punya kaki lagi. Tidak punya kaki tidak membuatnya putus asa. Tony tidak suka memakai kaki palsu dan lebih suka ngesot sehingga celananya mudah sekali rusak. Dia masih bisa manjat pohon dan bermain-main bersama teman-temannya.
Tony menyukai olaharaga. Dia sangat bersemangat dalam bidang ini. Berbagai olahraga dia tekuni. Renang, lempar lembing, tae kwon do, basket dan bahkan balap mobil. Karena keuletan dan kerja kerasnya, dia mengikuti dan memenangkan berbagai perlombaan internasional. Salah satunya olimpiade olahraga untuk orang cacat yang diselenggarakan di Jepang. Wuiih..hebat..Dengan keterbatasan fisik yang ada padanya, Tony tetap mampu berprestasi gemilang, prestasi yang benar-benar diraih dengan kerja keras dan pengorbanan. Bukan cuma prestasi olahraga, Tony juga mampu menunjukkan keahliannya dalam pembuatan papan iklan. Sebuah profesi yang dia tekuni walaupun pada awalnya pernah diremehkan oleh pemilik perusahaan tempat dia bekerja. Dengan semangat dan kerja keras, akhirnya Tony bisa membuktikan bahwa dia mampu melakukan pekerjaannya dengan baik, bahkan sangat baik, melebihi orang-orang yang bertubuh normal.
Kisah hidup Tony benar-benar inspiring. Lesson learnt dari kisah Tony ini diantaranya adalah
Tetapkan tujuan, berusaha keraslah untuk mencapainya, tidak ada yang tidak mungkin untuk diraih.
Jika kesempatan tidak menghampiri kita, kita lah yang harus menciptakan kesempatan itu.
mari berjuang bersama2 teman :)
Audit
Menurut saya pribadi, sebenarnya internal audit hanyalah bagian dari proses pembelajaran. Sama seperti ketika kita sekolah. Setiap akhir caturwulan atau semester pasti ada ujian. Ujian ditujukan untuk mengevaluasi siswa. Begitu pula dengan internal audit. Merupakan proses pengevaluasian hasil kerja. Oleh karena itu, seharusnya tidak perlu takut menghadapi internal audit apabila kita telah melakukan pekerjaan kita dengan benar. Apabila dari internal audit ditemukan adanya gap, seharusnya kita bersyukur karena telah ditunjukkan dimana kesalahan-kesalahan kita sehingga kita bisa segera memperbaikinya. Gap jangan dianggap sebagai dosa atau kesalahan besar karena anggapan seperti itu akan mendorong seseorang untuk melakukan berbagai cara agar tidak ditemukan gap pada pekerjaannya, misalnya dengan melemparkan kesalahan kepada orang lain atau dengan sengaja menghindar dari tim internal audit dengan alasan sakit. Anggaplah gap sebagai kritik yang membangun yang akan menuntun kita untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan kita. Anggaplah gap sebagai jembatan untuk menuju kualitas yang lebih baik.
Selamat bekerja, sukses selalu :)