Jumat, 29 Agustus 2008

Ramadhan

Marhaban ya Ramadhan..
Mohon maaf atas segala khilaf..
Mari kita sambut Ramadhan kali ini dengan hati yang bersih..
Semoga Ramadhan kali ini menjadi Ramadhan terbaik kita..
Amin..

Selasa, 26 Agustus 2008

ICND

Hari ini adalah hari ketiga training ICND yang aku ikuti. Meskipun materi yang disampaikan sudah pernah saya peroleh di training cisco yang sewaktu kuliah saya ikuti, saya tetap senang mengikuti training ini. Bukan karena instruktur yang ganteng ato makanan yang enak, tapi karena saya merasa saya menemukan kembali dunia saya. Dunia engineering yang sudah lama tidak saya sentuh semenjak saya bekerja. Sekalipun saya bekerja di sebuah departemen yang amat related to Engineering, saya tidak mendapatkan feel sebagai engineer disana. Maka dari training ini, saya sangat bergembira, seperti anak kecil yang menemukan bonekanya yang hilang...(hahahaha)..Dari training ini pula, saya jadi semakin mantap dan tau, sesungguhnya apa yang menjadi minat saya. Dan sejak saat ini pula, saya berjanji pada diri saya sendiri untuk mengejar apa yang saya inginkan..I wanna be the real telecommunication engineer..

Jumat, 08 Agustus 2008

ikhlas..

menjauh..tipis..dan akhirnya ilang..
kuncinya ikhlas..kata fahri.. :p

Rabu, 06 Agustus 2008

Pengajar

Hari ini saya bersama tiga orang teman menghadiri seminar yang diadakan oleh sebuah vendor aplikasi. Kami berempat berangkat dari kantor jam setengah sepuluh naik shuttle yang memang telah dipersiapkan untuk mengantar dan menjemput kami. Setibanya di tempat seminar, di sebuah hotel di kawasan Bundaran HI, acara telah dimulai. Seorang pembicara, tentunya dari vendor aplikasi tersebut, telah menjelaskan di panjang lebar tentang aplikasi terbaru yang mereka baru saja mereka develop. Baru sebentar saya mendengarkan penjelasan dari Bapak pembicara tersebut, saya sudah sangat kagum pada beliau. Penjelasannya sangat gamblang, mudah saya cerna, sekalipun materinya merupakan materi baru bagi saya yang masih sangat cethek di dunia IT. Beliau juga terlihat sangat menguasai materi yang disampaikannya. Cara menyampaikannya pun dengan bahasa yang sederhana dan bisa dipahami oleh orang awam seperti saya (walaupun penyampaiannya in English sih). Pokoke sedap lah..hehehe… Dalam hati saya mbatinwah..kalo semua pengajar di Indonesia kaya’ beliau ini, pasti pinter-pinter deh muridnya..”

Karena kekaguman saya sama Bapak pembicara ini, saya jadi ingat lagi sama cita-cita saya dan memiliki sedikit perubahan pandangan mengenai cita-cita saya. Saya gemar belajar dan sangat senang berbagi ilmu dan pengalaman dengan orang lain. Oleh karena itu, dari dulu saya bercita-cita untuk menjadi dosen. Namun, pengalaman saya yang hanya 2 jam hari ini, mengikuti seminar yang disampaikan oleh Bapak tadi, membuat saya sedikit membuka mata. Bahwa menjadi seorang dosen/guru bukanlah satu-satunya pekerjaan yang bisa mendukung kegemaran saya, belajar dan berbagi ilmu. Bahwa menjadi professional di sebuah perusahaan, tetap memungkinkan saya untuk bisa menjadi ”pengajar”. Memang, tidak semua profesi bisa membuat saya menjadi “pengajar”, namun menjadi dosen atau guru juga bukan merupakan satu-satunya profesi yang bisa membuat saya menjadi seorang “pengajar”.

Salam
Semangat :)

Selasa, 05 Agustus 2008

Aptitude Plus

Aptitude Plus adalah judul sebuah buku yang saya beli di Gramedia beberapa hari yang lalu. Merupakan salah satu buku psikologi-pengembangan diri. Saya memang menyukai jenis-jenis buku seperti ini terutama untuk menambah motivasi diri. Buku bersampul merah dengan tebal 130an halaman ini termasuk salah satu buku yang bisa membuat saya betah membaca. Selesai saya baca dalam waktu 2 malam. Rekor yang cukup bagus karena biasanya saya tidak pernah betah membaca buku, tidak bernah beranjak dari bab satu, terutama buku-buku yang membuat saya tidak tertarik sekalipun buku itu termasuk dalam jajaran best seller.

Buku ini berisi kisah nyata, tentang seorang anak bernama Tony, yang telah kehilangan kakinya sejak berusia 9 tahun. Terserempet kereta api membuat ia harus rela kedua kakinya diamputasi. Sebuah pukulan yang berat bagi keluarga Tony. Namun tidak demikian dengan Tony. Dia tetap bisa ngglidhig sekalipun dia tidak punya kaki lagi. Tidak punya kaki tidak membuatnya putus asa. Tony tidak suka memakai kaki palsu dan lebih suka ngesot sehingga celananya mudah sekali rusak. Dia masih bisa manjat pohon dan bermain-main bersama teman-temannya.

Tony menyukai olaharaga. Dia sangat bersemangat dalam bidang ini. Berbagai olahraga dia tekuni. Renang, lempar lembing, tae kwon do, basket dan bahkan balap mobil. Karena keuletan dan kerja kerasnya, dia mengikuti dan memenangkan berbagai perlombaan internasional. Salah satunya olimpiade olahraga untuk orang cacat yang diselenggarakan di Jepang. Wuiih..hebat..Dengan keterbatasan fisik yang ada padanya, Tony tetap mampu berprestasi gemilang, prestasi yang benar-benar diraih dengan kerja keras dan pengorbanan. Bukan cuma prestasi olahraga, Tony juga mampu menunjukkan keahliannya dalam pembuatan papan iklan. Sebuah profesi yang dia tekuni walaupun pada awalnya pernah diremehkan oleh pemilik perusahaan tempat dia bekerja. Dengan semangat dan kerja keras, akhirnya Tony bisa membuktikan bahwa dia mampu melakukan pekerjaannya dengan baik, bahkan sangat baik, melebihi orang-orang yang bertubuh normal.

Kisah hidup Tony benar-benar inspiring. Lesson learnt dari kisah Tony ini diantaranya adalah

Tetapkan tujuan, berusaha keraslah untuk mencapainya, tidak ada yang tidak mungkin untuk diraih.
Jika kesempatan tidak menghampiri kita, kita lah yang harus menciptakan kesempatan itu.

So...
mari berjuang bersama2 teman :)

Audit

Setelah hampir satu tahun bekerja, baru kali ini saya terlibat dalam internal audit, sebuah aktivitas yang berhubungan dengan esensi (Security and Control). Sebuah aktivitas untuk meng-assess semua pekerjaan yang dilakukan. Semua pekerjaan diteliti, apakah sesuai dengan prosedur yang sudah ditetapkan atau tidak. Semua pekerjaan diperiksa, apakah dilakukan pada waktu yang tepat dan oleh orang yang tepat atau tidak. Dan akhirnya semua pekerjaan akan dinilai dan diberi comment. Comment disini telah mengalami penyempitan makna, yaitu hanya berisi negative comment, yang artinya telah ditemukan gap pada pekerjaan yang dilakukan. Gap bisa berupa apa saja, misalnya, pekerjaan yang dilakukan tidak sesuai prosedur, tidak tepat waktu ataupun dilakukan oleh orang yang salah, atau bahkan ada pekerjaan-pekerjaan yang kurang memperhatikan safety issue. Setelah diketahai ada comment atau gap, kami para pelaku kerja, harus berusaha keras untuk menutup gap yang ada dengan melakukan aktivitas yang ditetapkan oleh tim internal audit.

Menurut saya pribadi, sebenarnya internal audit hanyalah bagian dari proses pembelajaran. Sama seperti ketika kita sekolah. Setiap akhir caturwulan atau semester pasti ada ujian. Ujian ditujukan untuk mengevaluasi siswa. Begitu pula dengan internal audit. Merupakan proses pengevaluasian hasil kerja. Oleh karena itu, seharusnya tidak perlu takut menghadapi internal audit apabila kita telah melakukan pekerjaan kita dengan benar. Apabila dari internal audit ditemukan adanya gap, seharusnya kita bersyukur karena telah ditunjukkan dimana kesalahan-kesalahan kita sehingga kita bisa segera memperbaikinya. Gap jangan dianggap sebagai dosa atau kesalahan besar karena anggapan seperti itu akan mendorong seseorang untuk melakukan berbagai cara agar tidak ditemukan gap pada pekerjaannya, misalnya dengan melemparkan kesalahan kepada orang lain atau dengan sengaja menghindar dari tim internal audit dengan alasan sakit. Anggaplah gap sebagai kritik yang membangun yang akan menuntun kita untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan kita. Anggaplah gap sebagai jembatan untuk menuju kualitas yang lebih baik.

Selamat bekerja, sukses selalu :)